"Assalamualaikum, Welcome, Jelajahi Imajinasimu! "

Hai! Temukan untaian kata, cerita, dan pengalaman menarik dari situs ini...

Ungkapkan Mimpimu Kawan

"Layaknya sang anak dalam pangkuan ayahnya, menatap senja dengan sejuta mimpi besar, pantaskan diri, dan buat mimpi itu datang padamu!"

Tersenyumlah...

"Seperti halnya kebaikanmu pada orang lain, ia juga akan datang padamu"

Komitmen...

"Bentuk kesetiaan memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi semua"

Tegurlah...

"Bukanlah kesempurnaan tanpa kritik dan masukan, sungguh itulah suplemen agar saya tumbuh besar"

Jumat, 05 Januari 2018

Kehamilan, Sebuah Tarbiyah yang Indah

Nida Asma Amaniy, Muhammad Fakhry Hatta

Untuk kakak tercinta, Nida Asma Amaniy.

Ya, dia saudariku yang paling cantik, sedang menunggu sang buah hati.

Wahai kakak, kehamilan, sebuah anugerah sekaligus amanah dari Allah kepada makhluk mulia di muka bumi. Ingatkan bahwa sebentar lagi surga berada di bawah tapak kakinya? Ingatkan bahwa sebentar lagi ia mendapat bakti tiga kali lebih banyak dari ayah? Ingatkan bahwa doanya melesat-lesat menembus langit? Ingatkan ridhonya menjadi penentu para mujahid bisa berangkat atau tidak? Ingatkan bahwa Allah berwasiat tiga kali untuk berbuat baik kepadanya? Ingatkan bahwa ridho Allah ada bersama ridhonya?
Sungguh mulia Islam mengangkat derajatnya.

Kehamilan, adalah anugerah sekaligus bibit kasih sayang abadi yang Allah berikan kepadanya. Tak pernah lekang oleh zaman kasih ibu pada buah hatinya. Adakah cinta lain yang tumbuh alami begitu kuat seperti ini?

Sungguh Allah menempatkannya pada posisi yang disebut-sebut dalam Al-Quran setelah ketaatan pada-Nya.

Kehamilan, peristiwa ini mengajarkan betapa kuasa itu hanya kepunyaan Allah semata. Pernahkah seorangpun kuasa memilih bibit dan menempatkannya jadi janin? Adakah seorangpun kuasa memilih antara laki-laki atau perempuan? Pernahkah seorangpun kuasa menumbuhkan janin dari segumpal darah hingga nyata berbentuk anak manusia yang membuat ayah-ibu begitu bahagia menanti? Adakah seorangpun yang kuasa menentukan posisi bayi dalam perut hingga siap menghirup nafas pertama kali? Semua seakan pasrah pada ketentuan-Nya.
(لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ)
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin: 4)

Kehamilan, menitipkan pesan bahwa Allah satu-satunya tempat bergantung. Dan dialah, calon ibu, yang paling mengerti rasa butuh akan hal itu. Saat harus memikul beban dalam perut sembilan bulan lamanya, dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, saat begitu susah payah menjalani persalinan, Allah ajarkan betapa rasa itu mengingatkan ke mana kita harus bergantung. Sebuah tarbiyah indah dari Allah khusus untuk perempuan.

Berdoalah, kakakku, gantungkanlah harapan pada Allah, kini engkau akan merasakan, betapa tak ada lagi tempat bergantung selain kepada Allah. 
(هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ)
"Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang shalih, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (QS. Al-A'raf: 189)

Minggu, 31 Desember 2017

Refleksi Pergantian Tahun


Dengan mudah kita memahami makna pergantian. Pada hakikatnya pergantian adalah mengeluarkan sesuatu dari sebuah ruang dan memasukkan sesuatu yang lain pada ruang tersebut. Pergantian tidak dapat terjadi tanpa ada sesuatu yang dikeluarkan dan dimasukkan.

Secara sederhana bisa digambarkan dalam ilustrasi pemain bola. Pergantian dilakukan karena dalam peraturan permainan sepakbola hanya boleh bermain dalam lapangan sejumlah sebelas orang, ketika kita ingin memasukkan pemain lain, maka harus ada yang dikeluarkan sehingga dalam lapangan tetap berjumlah sebelas orang yang bermain dalam satu tim. Kalaulah aturan main di dalam lapangan bisa menampung lebih dari sebelas orang maka tidak perlu ada yang dikeluarkan, dan tidak disebut sebagai pergantian.

Begitu pula jika kita ingin mengganti isi segelas susu dengan kopi, maka harus ada bagian susu yang dikeluarkan sehingga kita dapat memasukkan bagian kopi, sebagian atau seluruhnya. Ini semua karena keterbatasan ruang yang ada untuk menampung, maka terjadilah pergantian.

Hal serupa juga dialami waktu, sejak awal diciptakannya semesta, Allah telah menetapkan akhirnya yang disebut ajal, maka dari awal penciptaan sampai ajal itulah yang disebut ruang waktu dunia, yang tentu dengan ini kita paham bahwa ruang ini punya batas. Apa batasnya? Sejak awal penciptaan sampai ajal.
(لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ)
"Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Yunus: 49)
Pada konteks ini kita harus selalu mengulang ingatan akan kematian sebagai batas waktu kita.

Maka tatkala ada pergantian waktu, akan ada waktu lain yang dikeluarkan kemudian ada waktu lain yang dimasukkan dalam ruang waktu ini. Pergi yang lama kemudian datang yang baru menggantikan. Hal ini dikarenakan Allah telah menetapkan ruang waktu yang terbatas, sehingga ketika ada waktu yang datang harus ada yang pergi. Di akhirat kelak, ruang waktu itu menjadi tidak terbatas dan sangat luas. Maka perbandingan ruang waktu dunia dan akhirat pun sangat jauh.
(وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ)
"Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. Al-Haj: 47)

Dalam penanggalan Masehi, kita telah berada pada penghujung tahun 2017 dan akan datang tahun baru 2018. Ruang waktu dunia yang sempit ini memaksa hari-hari 2017 menepi dan siap menampung kedatangan hari-hari 2018. Bulan demi bulannya, pekan demi pekan, hari demi hari, jam, bahkan detiknya akan berlalu silih berganti. Semua saling tukar-menukar berganti posisi mengisi ruang waktu ini.

Keterbatasan ruang waktu inilah yang harusnya membuat kita sadar, bahwa hidup ini penuh pergantian. Roda kehidupan memutar yang di atas untuk ke bawah, dan kelak yang di bawah akan naik ke atas. Mungkin kita sedih saat ini tapi kelak kita mencicipi manisnya kebahagiaan. Mungkin saat ini kita terpuruk, namun ada masanya kebangkitan itu kita rasakan.

Keterbatasan ruang waktu ini juga yang mengingatkan kita, bahwa kita harus senantiasa mempersiapkan diri akan pergantian. Seorang pemain bola harus sadar bahwa saat ia tak cukup stamina dan tak bermain baik, maka pelatih akan segera mengantikannya. Kita pun begitu dalam hidup, jika peran dan manfaat kita sudah tak lagi ada, Allah akan menggantikan peran kita, dan akan dilakoni oleh orang lain. Menggantikan atau tergantikan.
Maka, jagalah daya kebermanfaatan kita, rebut setiap peluang kebaikan, dan buktikan bahwa kita layak mengisi peran sebagai kholifah di muka bumi. Bukankah hidup ini adalah kompetisi melakukan kebaikan?

(وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ)
"Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini)." (QS. Muhammad: 38)

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)
"Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 54)

(وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ)
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zhalim." (QS. Ali Imran: 140)

Begitulah sunnah (ketetapan) pergantian. Adakah kita siap?
_____
Sumber gambar: www.sujanpatel.com

Senin, 04 Desember 2017

Pemberian Allah Lebih Baik!


Tatkala Sulaiman 'alaihissalam tiba pada suatu momen berdiplomasi dengan Ratu Balqis, dengan pucuk surat yang tegas memberikan ajakan, diantar dengan perantara makhluk cerdas Hudhud, sontak membuat Balqis takjub seraya mengumpulkan pembesar-pembesarnya.

Dibacalah: diukir dengan pembukaan atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ia lantas jatuhkan kesombongan Balqis dan menawarkan kemuliaan sejati, bersekutulah denganku dan serahkan jiwa raga pada Rajanya raja, itulah negosiasi singkat dan sarat makna.

Begitu terangnya seruan itu dan nyatanya kebenaran hingga tak butuh lagi panjang kalam dan retorika yang tak seyogyanya disemat. 

Begitu mudahnya kebenaran itu dipahami oleh sehatnya akal sehingga tak perlu lagi diksi-diksi panjang nan bertele-tele.

Namun hati yang begitu takut penilaian manusia itupun gundah, sontak Balqis meminta bala sokongan dari pasang mata, yang bahkan mereka ada di tingkat bawah dalam hierarki kekuasaannya. Bimbanglah ia. Begitulah, karena hakikat ia sebagai manusia tak punya kuasa mutlak. Bahkan ia tak kuasa atas keputusannya.

Akhirnya, ia coba berbalas surat, yang ia kira lebih baik dan dapat menggoda kerajaan Sulaiman. Sungguh, kebodohan yang hakiki! Padahal ia jelas tahu kekuatan kerajaan Sulaiman tak bertanding. Dengan hadiah itu ia hendak meminta suaka pada agungnya kerajaan Sulaiman agar tetap aman dalam kesyirikannya.

Tergodakah Sulaiman pada harta mewah yang sarat unsur politik itu? Nahas, sungguh malang Balqis dan bala tentaranya sebab ia tak tahu bahwa mewahnya harta yang ia hadiahkan tak cukup mewah di mata Sulaiman nabi Allah. Runtuhlah rasa bangga Balqis dan pasukannya atas hadiah itu, yang sontak dibuat tak bernilai di hadapan Sulaiman. Sebab Sulaiman telah lebih dahulu miliki hadiah yang jauh lebih mewah dan menggiurkan. Sebab Sulaiman mendapat hadiah dari yang Maha Kaya dan Agung, Dialah Allah yang menganugerahkan Sulaiman kerajaan dan pasukan dari tiga golongan. Belum lagi limpahan pahala dan rahmat-Nya. Adakah yang lebih baik dari itu!? Makhluk mana yang mampu memberi seperti itu!?

Begitulah Sulaiman menang atas Balqis dengan kekuatan anugerah dari Allah sumber pertolongan dan kekuatan.

Pelajarilah, renungkanlah, sampai kita jatuh pada kesimpulan bahwa tak ada godaan harta yang begitu menggiurkan dibanding apa yang Allah janjikan pada kita. Tak ada bonus yang begitu dikejar dibanding bonus yang Allah lipatgandakan pada kita. Tak ada suapan harta yang begitu menggoda selera dibanding limpahan anugerah Allah pada kita. Tak satupun pemberian manusia yang sebanding dengan pemberian Allah.

Lantas masihkah kita menggadaikan agama kita demi urusan perut semata? Sebandingkah aqidah kita dijual dengan digit-digit angka yang tertera pada lembaran kertas? Lebih baikkah jabatan yang disodorkan kepada kita dibanding derajat yang Allah berikan pada hamba-Nya yang ikhlas? 

Belajarlah dari Sulaiman yang tak sudi kehormatannya berupa pemberian Allah dilecehkan dengan pemberian manusia. Itulah letak kemuliaan sejati.

Begitulah kisah Sulaiman dan Balqis abadi dalam sucinya Al-Quran. Maka reguklah tetesan-tetesan hikmah itu.

Sumber gambar: www.cedarscobblehill.com

Minggu, 14 Mei 2017

Mengukur Kadar Iman Dengan Bulan Ramadan

Mengukur kadar iman

Dalam aqidah Ahlu Sunnah wal Jama'ah dijelaskan bahwa Al-imaanu yaziidu wa yanqush, iman itu bersifat fluktuatif, bertambah dan berkurang.
Maka selayaknya seorang muslim menjaga agar imannya senantiasa bertambah dan meminimalisir dari berkurangnya iman.
Iman At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunan-nya; “Bab sempurnanya iman, bertambah dan berkurangnya.”
Allah SWT berfirman: “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatsir: 31)

Lalu bagaimana cara kita mengetahui iman kita sedang bertambah atau berkurang? Ada dua faktor yang mempengaruhi bertambah dan berkurangnya iman; ketaatan dan kemaksiatan.
Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 183 Allah menjelaskan tujuan dari disyariatkannya puasa; agar mencapai derajat takwa.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Mulianya bulan Ramadan dan ibadah puasa tentu merupakan bentuk ketaatan yang menjadi sumber bertambahnya iman. Bukan hanya sekadar bertambah, tapi bertambah berlipat-lipat. Terlebih orang yang berhasil dalam puasanya akan mencapai derajat takwa.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.." (QS. Ali Imran: 102)
Ayat ini menunjukkan adanya korelasi antara iman dan takwa.

Lalu bagaimana cara kita mengukur iman dengan bulan Ramadan?

Pertama, menyikapi datangnya bulan Ramadan.
Di artikel lain telah saya jelaskan setidaknya ada tiga golongan manusia dalam menyambut bulan Ramadan.
(https://risalahraji.blogspot.com/2013/07/tiga-golongan-manusia-penyambut-ramadhan.html)
Jika hati kita senantiasa menggebu-gebu menantikan datangnya bulan Ramadan, maka sesungguhnya iman kita sedang naik. Semakin jauh hari kita menanti kedatangan bulan Ramadan, semakin rindu kita dengan bulan Ramadan, semakin besar tingkat keimanan kita. Para salafus shalih bahkan mempersiapkan diri menyambut Ramadan enam bulan sebelumnya.

Kedua, cara kita menikmati bulan Ramadan.
Rasulullah SAW telah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thobroniy)
Cara kita menikmati ibadah selama bulan Ramadan akan menjadi ukuran tingkat keimanan kita. Semakin kita merasakan kelezatan ibadah di bulan Ramadan, maka semakin naik iman kita. Sebaliknya, jika kita menunggu waktu berbuka saja tidak sabar, ingin cepat selesai shalat tarawih, dan lelah memperbanyak tilawah Al-Quran, maka itu bisa jadi pertanda iman kita sedang lemah.

Ketiga, melepas bulan Ramadan.
Pertemuan pasti mengandung perpisahan, mau tidak mau. Ketika bulan Ramadan akan datang, maka ia juga akan pergi.
Sederhananya, saat kita tidak merasakan sedih dengan kepergian bulan Ramadan, mungkin iman kita sedang turun. Betapa tidak, kesempatan melipatgandakan pahala akan segera berakhir, hari-hari ampunan dibuka selebar-lebarnya akan berlalu, tapi kita tidak merasa sedih?
Orang-orang yang memiliki keimanan kuat akan memanfaatkan sampai detik-detik terakhir bulan Ramadan. Bukan justru disibukkan dengan persiapan lebaran dengan pergi ke mall dan sebagainya.

Dengan ketiga indikator di atas, setidaknya kita bisa mengukur tingkat keimanan kita. Sungguh, keimanan yang benar akan senantiasa melahirkan kelezatan dalam beribadah. Iman akan menjadi sumber kekuatan dalam beribadah dan ibadah yang kuat akan menjadi sumber keimanan. Segala bentuk ketaatan akan mengantarkan pada bertambahnya iman dan segala bentuk dosa akan melemahkan iman.
Semoga Allah SWT menumbuhkan keimanan dalam diri kita.

_________
Sumber gambar: knowingallah.com

Sabtu, 15 April 2017

Arti Pemimpin dalam Islam

risalah raji, pemimpin muslim

Sering kita dibuat bingung dengan ungkapan "lebih baik pemimpin kafir tapi tidak korupsi daripada pemimpin muslim tapi korupsi".

Bingung bukan? Lalu seperti apa kita sebagai muslim harus menjawab?

Mari kita tengok seperti apa kriteria pemimpin yang telah Islam ajarkan.

Pertama, tentu kita sudah tak asing dengan cita-cita kaum muslimin terhadap suatu bangsa, menjadikan bangsa tersebut bangsa yang dicirikan Allah SWT, "Baldatun thayyubatun wa Rabbun Ghafur" dalam surat Saba' ayat 15. Betapa indah bangsa yang memiliki predikat tersebut.

Kaum Saba', kaum yang negerinya diberi predikat itu oleh Allah. Sayangnya akibat kekufuran mereka, dalam ayat selanjutnya Allah ceritakan bagaimana mereka ditimpakan banjir besar yang memusnahkan seluruh kenikmatan negerinya yang sebelumnya Allah telah anugerahi.

Kalau kita perhatikan dalam predikat negeri yang diimpikan "Baldatun thayyubatun wa Rabbun Ghafur" ini ada dua unsur.

Yang pertama adalah Baldatun thayyibah, negeri yang baik. Negeri yang baik kalau mau kita artikan sudah pasti baik secara akal manusia. Definisi lain bisa berarti sejahtera, makmur, berdikari, tanahnya subur, alamnya ramah, dan segala definisi kebaikan. Baik artinya tidak mungkin buruk dan bagaimanapun kita menggambarkan kebaikan itu pasti kita setuju bahwa hal itu baik dan kita semua menginginkannya.

Kedua, wa Rabbun Ghafur, tak cukup hanya dengan negeri yang baik. Seorang Firaun yang kafir dan sombong pun bisa mendatangkan kesejahteraan bagi bangsanya. Hartanya melimpah, mudah baginya menghapus kemiskinan. Tapi Allah cirikan bangsa yang diimpikan itu adalah bangsa yang tidak hanya baik kondisinya, tetapi Allah ridho dengan bangsa tersebut. Di sinilah pentingnya masyarakat dan pemimpin bertaqwa kepada pencipta-Nya. Semua peraturan dan perilaku masyarakat di negeri tersebut dicintai dan diridhoi Allah.

Dari sini kita tahu arti penting doa yang diajarkan nabi Muhammad saw, waj'alna lil muttaqiina imama, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidaklah pemimpin orang yang bertaqwa itu kecuali adalah orang yang paling bertaqwa di antara mereka, seperti halnya pemimpin orang-orang kuat adalah orang yang paling kuat di antara mereka. Lantas tidak mungkin suatu negeri mencapai predikat ini kalau pemimpinnya saja tidak bertaqwa bahkan kafir.

Ibnu Katsir seorang ulama tafsir yang sangat terkenal dan diakui mengomentari tentang kalimat Rabbun Ghafur: "yaitu ampunan kepada kalian jika kalian tetap meng-esa-kan Allah."

Kemudian dalam penjelasan lain Allah SWT memberikan ciri seorang pemimpin yang baik adalah kuat dan amanah (dapat dipercaya).

Inilah yang dimiliki nabi Musa AS Tatkala Allah SWT berfirman mengisahkan puteri Nabi Syu'aib yang berkata:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. Al-Qasas: 26)

Kuat secara fisik, kuat secara akal, dan kuat rohaninya lalu dia dapat dipercaya, gelar Nabi Muhammad SAW yang bahkan diberikan oleh musuhnya sendiri, Al-Amin, yang dipercaya.

Fisik prima, penampilannya meyakinkan sebagai seorang pemimpin, memiliki integritas, cakap dan paham mengelola negara, bisa memberikan solusi bukan memperkeruh masalah, kemudian senantiasa bergantung pada Tuhannya.

Seperti itulah arti pemimpin yang layak memimpin orang-orang bertaqwa "Waj'alna lil Muttaqiina Imama" dan kelak negerinya akan menjadi "Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur". Negerinya baik, pemimpinnya santun, dan sejahtera serta bahagia rakyatnya.
__________________
sumber gambar: pinterest.com

Sabtu, 01 April 2017

Cahaya di Malam Syahdu

Temaram di jalan itu, kau lihatkan?
Betapapun sunyi menyelimuti ia tetap bercahaya.
Aku selalu memandangnya malu-malu, tak berani menampakkan diri.
Diam-diam kutahu bagaimana ia melukis angin malam, kutahu bagaimana ia merangkai gelap jadi indah, bahkan kutahu bagimana ia bersenandung me-ninabobo-kan purnama.
Sampai seluruhnya sepi nan syahdu, lalu perlahan ia memulai munajat.
Langit seketika berbaris membukakan pintunya.
Sayap-sayap kesunyian mulai mengepak merdu menanti lirih kata yang siap dihantarkan ke cakrawala tertinggi.
Dedaunan berbisik takut mengganggu kalau akan mengganggu.
Mulailah ia lirih mengucap, memanggil, dan menyeru Tuhannya.
Ia menengadah, mengetuk pintu-pintu langit, membuka jalan-jalan langit, mengguncang bisik-bisik malaikat.
Sampai tetes dari kedua mata mulianya menggetarkan seluruh jagad, membuat penduduk langit hiruk-pikuk.
Sementara Tuhannya sedari awal mendengar, mendekati, dan mengasihi.
Robbigfirli, Tuhannya lantas mengampuni.
Irhamni, Tuhannya lantas mengasihi.
Ihdini, Tuhannya lantas memberinya petunjuk.
Lalu firman-Nya menyeru; "Pintalah, akan aku kabulkan".
Seketika ruang langit dan bumi sesak dengan rahmat-Nya.
Entah berapa mimik takjub terlontar dari rautku.
Ingin esok kembali kusaksikan peristiwa menakjubkan ini, maukah engkau?

Jumat, 24 Maret 2017

Senja yang Resah

Duhai, resahnya sore melepas mentari. Lambat laun cahayanya meredup, pergi ditelan ufuk. Tanpa pamit. Tak ada daya mencegahnya walau sejenak. Tatapku hanya bisa kosong merelakan. Berharap esok jumpa kembali.

Beriringan perginya senja, awal keresahan menghampiri. Hiruk pikuk mulai memenuhi semesta. Padahal setahuku malam membawa sunyi. Tapi di kesendirian justru resah yang kurasa. Ingin rasanya menagih senja, apa yang ia ambil dariku!?

Kunyalakan lentera, coba membakar gundahgulana. Celaka, tak satupun yang menjadi tenang. Ini semakin bergejolak. Malang, resah membuatku lupa akan api. Dasar sifat api!

Kupukul gila ini. Mencoba sadar apa yang hilang. Tidak, akal ini sadar, tapi resah membuatnya buta. Tenyata gelap malam mengambil semua cahayanya. Memupus secercah cahaya yang menghiasi temaram. Kupukul gelap ini, tapi ia menjadi-jadi. Esok kutagih senja!

Semakin menjadi-jadi, bingung pun menghampiriku. Ia tak sendiri. Di penghujung keresahan dan hilangnya asa, ia datang memperkenalkan sesal. Meraih mendekap, mengajariku tunduk, memacu keresahanku, hingga batasnya, lalu di luar sadarku menitikkan air mata. Gejolak resahku seketika padam.

Senin, 30 Januari 2017

Jakarta, 'Desa' yang Tergusur

Pernah liburan ke desa? Pulang kampung? Ah, itu rasanya seperti melepas baju-baju kepenatan. Beban pikiran seperti luntur begitu tiba di desa. Asri, ramah, tentram, menenangkan, kicauan burung, angin segar, hampir semua itu cuma ada di desa.

Dahulu, Jakarta pun seperti itu. Tapi itu sudah dahulu kala. Seperti kisah fiktif kalau diceritakan sekarang. Apalagi hari ini. Entah mengapa penguasa Jakarta saat ini seperti tak mau menghadirkan suasana desa di ibukota. Perlahan digusur dan dipinggirkan. Semua lenyap seperti disapu ombak pinggir pantai. Jakarta makin hilang rasa desanya.

Jakarta ibukota. Betapa indahnya jika ibukota maju, pembangunannya maju, fasilitas dan pelayanannya maju. Bukan tidak mungkin semua itu dicapai dengan juga menghadirkan suasana desa di ibukota. Bayangkan, jika ibukota warganya bahagia, tak ada yang perlu menangis rumahnya digusur. Penataan bolehlah, asal warganya dihormati dan dijunjung. Pemimpin harusnya berjuang untuk rakyat, melayani rakyat bukan menyengsarakan rakyat. Begitu bukan?

Bayangkan jika ibukota hati warganya tentram. Tak perlu lagi ada kata-kata kasar dan menista keluar dari mulut penguasa. Sungguh tak elok rasanya, dipilih rakyat tapi menghina rakyat. Sudah saatnya rakyat ibukota tentram dan bahagia.

Saya berharap, jikalau orang-orang tua sudah tak lagi bisa melihat pemimpin mana yang betul-betul membawa kemajuan dan kebahagiaan, biarlah kami anak muda yang bersuara lantang menyerukan perubahan. Saya punya mimpi, suatu saat ibukota punya rasa desa. Kota megapolitan yang nyaman, tentram, damai, tanpa tangisan pilu warganya.

Saat ini, saya yakin, pasangan nomor 3 calon pemimpin Jakarta, Anis-Sandi punya harapan untuk itu. Semoga warga Jakarta lebih dewasa, lebih cerdas, dan mau bersama mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman itu.

Jumat, 27 Januari 2017

Mahasiswa dan Pilkada Jakarta

Sebenarnya apa sih yang dirisaukan warga Jakarta menjelang Pilkada 15 Februari nanti? Apa saja yang ditawarkan masing-masing calon gubernur Jakarta? Manakah calon yang betul-betul mau memperbaiki Jakarta?

Sebagai mahasiswa harusnya lo udah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Ya, jangan kira mahasiswa tak punya peran dalam pagelaran pilkada ini. Ini penting, Karena Jakarta adalah ibukota. Lihat saja semua mata sekarang tertuju pada Pilkada DKI. Siapa sih yang lupa dengan sejarah? Mahasiswa selalu terdepan dalam perubahan di negeri ini. Wajar, karena mahasiswa itu kritis, berani, dan jauh dari iming-iming uang dan kekuasaan. Mereka tulus berjuang. Ya kecuali lo masuk kategori mahasiswa anak layangan, mungkin gak akan banyak tahu dan peduli.

Tapi menurut gue, sudah saatnya mahasiswa khususnya di Jakarta ambil peran. Udah ga zaman lagi mahasiswa skeptis dengan politik, pura-pura gak peduli, giliran rakyat menjerit, rumah-rumah digusur dengan tidak manusiawi, pengusaha ketawa-ketawa nikmatin hasil reklamasi, kita baru kebakaran jenggot. Ingat bro, mahasiswa selalu terdepan mengawasi pemerintahan. Mahasiswa selalu maju memperjuangkan nasib rakyat!

Semoga lo, gue, dan para mahasiswa lainnya udah ga bingung lagi harus ambil peran apa di Pilkada ini. Gue yakin itu.
Dan menurut gue ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa:

Pertama, lo harus buka mata selebar-lebarnya dan tatap Pilkada yang tinggal menghitung hari ini. Cermati, amati, ikuti. Kita bisa lihat kok apa di balik siapa, dan siapa di balik apa. Maksud gue, yang namanya politik adalah kepentingan. Tinggal siapa mementingkan apa. Mementingkan rakyat kah atau bukan? Sadar bahwa di Pilkada ini kita harus ambil peran.

Kedua, tentukan pilihan. Sebagai mahasiswa lo udah harus tahu mana calon pemimpin yang terbaik. Jangan cari malaikat bro di Pilkada ini. Semua calon gue yakin pasti punya kekurangan. Tinggal kita cari siapa yang terbaik di antara yang baik, atau siapa yang paling sedikit buruknya di antara yang buruk. Dan jangan lupa, dia mau memperjuangkan siapa, dan siapa orang-orang di baliknya. Ya namanya juga politik, udah ga bisalah mahasiswa dibodohi dengan pencitraan. Dan gue pribadi melihat di Pilkada ini ada tiga poros besar, yang satu mewakili Amerika, yang satu mewakili China, dan satu lagi mewakili Indonesia. Ya itu sih opini gue.

Ketiga, setelah lo yakin, jangan puas sampai di situ aja. Lo harus ajak teman-teman lo, buat mereka juga yakin kaya lo. Gimana caranya? Sekarang zaman canggih, lo cuma duduk aja udah bisa bro. Manfaatin teknologi, gadget, media sosial, blog, komunitas, dan lain-lain. Dan perlu kita sadari, sebagian pemilih DKI adalah pemilih muda, yang mayoritasnya adalah mahasiswa, yang lo tahu mahasiswa ga lepas dari internet dan media sosial. Manfaatkan itu.
"Loh ngapain gue repot-repot ngajak orang?" Yaelah bro, kalo cuma lo seorang doang milih calon yang lo yakin dia yang terbaik, percuma aja, yang akan menang adalah yang paling banyak suaranya. Ingat kan pemilu Amerika beberapa waktu lalu? Rakyatnya pada pengen Hillary yang menang, tapi nyatanya apa? Trump yang naik. Karena apa? Karena dia yang dapat suara terbanyak, akhirnya sekarang demo di mana-mana. Ya namanya juga demokrasi, begitulah kenyataannya.

Terkahir, 15 Februari buat lo yang ber-KTP Jakarta, jangan sampai kehilangan hak suara lo. Dateng ke TPS. Jangan golput. Sekarang lo bisa lihat orang-orang yang matanya cuma bisa lihat duit berbondong-bondong pada milih. Yang dicari duitnya doang, gak peduli siapa yang dipilih, yang penting kantong tebel. Lo gamau kan mereka-mereka pada milih sementara lo yang tulus mencari pemimpin sejati ga milih?

So, pilkada bukan cuma urusan orang-orang tua, bukan cuma kepentingan elit politik, tapi lo sebagai mahasiswa punya peran besar di pemilu. Untuk rakyat Indonesia, untuk Jakarta yang lebih baik, hidup mahasiswa!

Selasa, 24 Januari 2017

Jeritan Mahasiswa Jakarta, kemana?

Pernah melihat jalan Jakarta sepi? Ya, mungkin hanya dua kali dalam setahun saat lebaran haji dan lebaran puasa, ditambah libur-libur longweekend yang sering tak pasti, sama dengan keluhan rakyat Jakarta yang sering tak pasti nasibnya.

Tapi saya lebih sering melihat Jakarta sepi dari teriakan mahasiswa. Padahal pemangku kebijakan tak pernah sepi dari korupsi. Tukang oplet yang sudah memarkirkan opletnya sejak lama pun paham dengan keluhan-keluhan ini.

Syukurlah, kita bisa melihat jelas permasalahan Jakarta yang tak bisa disembunyikan oleh si pesilat lidah. Meskipun sebenarnya miris. Memangnya ada yang ingin hidup dalam sengsara terus? Saya tak sanggup lagi menonton jerit tangis rakyat jelata yang rumahnya digusur dengan tidak manusiawi. Saya juga semakin pilu dengan keuntungan reklamasi yang ternyata lebih banyak merugikannya. Geram dengan pertunjukan nista-menistakan di publik. Penegak hukumnya seperti main kucing-kucingan, tak tahu kapan tertangkapnya. Bosan, cari mangsa lain. Sudah saatnya Jakarta butuh kesantunan dari pemimpinnya. Ini negeri yang santun, ini ibukotanya yang santun.

Aneh bukan? Panggung ibukota negara yang kaya raya, rakyatnya santun, dan ragam budayanya ini cuma jadi rebutan orang bermata duit. Jelas menggiurkan, ini ibu kota loh. Sebab itulah yang merasa hebat berani ikut ambil peruntungan demi bisa menunggangi panggung nyaman ini. Siapa yang betul-betul tulus? Tinggal lihat saja siapa dalang di balik tokohnya.

Mahasiswa, Jakarta, mahasiswa Jakarta, tolaklah lupa itu, lupa dengan karakter kita yang khas, kritis. Jangan mau dikelabui rezim yang terus coba membuat kritis kita tumpul. Menjeritlah sebagaimana rakyat menjerit. Teriaklah sebagaimana warga kecil berteriak. Nasib ibukota ini sebentar lagi ditentukan.