"Assalamualaikum, Welcome, Jelajahi Imajinasimu! "

Hai! Temukan untaian kata, cerita, dan pengalaman menarik dari situs ini...

Ungkapkan Mimpimu Kawan

"Layaknya sang anak dalam pangkuan ayahnya, menatap senja dengan sejuta mimpi besar, pantaskan diri, dan buat mimpi itu datang padamu!"

Tersenyumlah...

"Seperti halnya kebaikanmu pada orang lain, ia juga akan datang padamu"

Komitmen...

"Bentuk kesetiaan memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi semua"

Tegurlah...

"Bukanlah kesempurnaan tanpa kritik dan masukan, sungguh itulah suplemen agar saya tumbuh besar"

Minggu, 14 Mei 2017

Mengukur Kadar Iman Dengan Bulan Ramadan

Mengukur kadar iman

Dalam aqidah Ahlu Sunnah wal Jama'ah dijelaskan bahwa Al-imaanu yaziidu wa yanqush, iman itu bersifat fluktuatif, bertambah dan berkurang.
Maka selayaknya seorang muslim menjaga agar imannya senantiasa bertambah dan meminimalisir dari berkurangnya iman.
Iman At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunan-nya; “Bab sempurnanya iman, bertambah dan berkurangnya.”
Allah SWT berfirman: “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS. Al-Mudatsir: 31)

Lalu bagaimana cara kita mengetahui iman kita sedang bertambah atau berkurang? Ada dua faktor yang mempengaruhi bertambah dan berkurangnya iman; ketaatan dan kemaksiatan.
Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 183 Allah menjelaskan tujuan dari disyariatkannya puasa; agar mencapai derajat takwa.
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Mulianya bulan Ramadan dan ibadah puasa tentu merupakan bentuk ketaatan yang menjadi sumber bertambahnya iman. Bukan hanya sekadar bertambah, tapi bertambah berlipat-lipat. Terlebih orang yang berhasil dalam puasanya akan mencapai derajat takwa.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.." (QS. Ali Imran: 102)
Ayat ini menunjukkan adanya korelasi antara iman dan takwa.

Lalu bagaimana cara kita mengukur iman dengan bulan Ramadan?

Pertama, menyikapi datangnya bulan Ramadan.
Di artikel lain telah saya jelaskan setidaknya ada tiga golongan manusia dalam menyambut bulan Ramadan.
(https://risalahraji.blogspot.com/2013/07/tiga-golongan-manusia-penyambut-ramadhan.html)
Jika hati kita senantiasa menggebu-gebu menantikan datangnya bulan Ramadan, maka sesungguhnya iman kita sedang naik. Semakin jauh hari kita menanti kedatangan bulan Ramadan, semakin rindu kita dengan bulan Ramadan, semakin besar tingkat keimanan kita. Para salafus shalih bahkan mempersiapkan diri menyambut Ramadan enam bulan sebelumnya.

Kedua, cara kita menikmati bulan Ramadan.
Rasulullah SAW telah bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thobroniy)
Cara kita menikmati ibadah selama bulan Ramadan akan menjadi ukuran tingkat keimanan kita. Semakin kita merasakan kelezatan ibadah di bulan Ramadan, maka semakin naik iman kita. Sebaliknya, jika kita menunggu waktu berbuka saja tidak sabar, ingin cepat selesai shalat tarawih, dan lelah memperbanyak tilawah Al-Quran, maka itu bisa jadi pertanda iman kita sedang lemah.

Ketiga, melepas bulan Ramadan.
Pertemuan pasti mengandung perpisahan, mau tidak mau. Ketika bulan Ramadan akan datang, maka ia juga akan pergi.
Sederhananya, saat kita tidak merasakan sedih dengan kepergian bulan Ramadan, mungkin iman kita sedang turun. Betapa tidak, kesempatan melipatgandakan pahala akan segera berakhir, hari-hari ampunan dibuka selebar-lebarnya akan berlalu, tapi kita tidak merasa sedih?
Orang-orang yang memiliki keimanan kuat akan memanfaatkan sampai detik-detik terakhir bulan Ramadan. Bukan justru disibukkan dengan persiapan lebaran dengan pergi ke mall dan sebagainya.

Dengan ketiga indikator di atas, setidaknya kita bisa mengukur tingkat keimanan kita. Sungguh, keimanan yang benar akan senantiasa melahirkan kelezatan dalam beribadah. Iman akan menjadi sumber kekuatan dalam beribadah dan ibadah yang kuat akan menjadi sumber keimanan. Segala bentuk ketaatan akan mengantarkan pada bertambahnya iman dan segala bentuk dosa akan melemahkan iman.
Semoga Allah SWT menumbuhkan keimanan dalam diri kita.

_________
Sumber gambar: knowingallah.com

Sabtu, 15 April 2017

Arti Pemimpin dalam Islam

risalah raji, pemimpin muslim

Sering kita dibuat bingung dengan ungkapan "lebih baik pemimpin kafir tapi tidak korupsi daripada pemimpin muslim tapi korupsi".

Bingung bukan? Lalu seperti apa kita sebagai muslim harus menjawab?

Mari kita tengok seperti apa kriteria pemimpin yang telah Islam ajarkan.

Pertama, tentu kita sudah tak asing dengan cita-cita kaum muslimin terhadap suatu bangsa, menjadikan bangsa tersebut bangsa yang dicirikan Allah SWT, "Baldatun thayyubatun wa Rabbun Ghafur" dalam surat Saba' ayat 15. Betapa indah bangsa yang memiliki predikat tersebut.

Kaum Saba', kaum yang negerinya diberi predikat itu oleh Allah. Sayangnya akibat kekufuran mereka, dalam ayat selanjutnya Allah ceritakan bagaimana mereka ditimpakan banjir besar yang memusnahkan seluruh kenikmatan negerinya yang sebelumnya Allah telah anugerahi.

Kalau kita perhatikan dalam predikat negeri yang diimpikan "Baldatun thayyubatun wa Rabbun Ghafur" ini ada dua unsur.

Yang pertama adalah Baldatun thayyibah, negeri yang baik. Negeri yang baik kalau mau kita artikan sudah pasti baik secara akal manusia. Definisi lain bisa berarti sejahtera, makmur, berdikari, tanahnya subur, alamnya ramah, dan segala definisi kebaikan. Baik artinya tidak mungkin buruk dan bagaimanapun kita menggambarkan kebaikan itu pasti kita setuju bahwa hal itu baik dan kita semua menginginkannya.

Kedua, wa Rabbun Ghafur, tak cukup hanya dengan negeri yang baik. Seorang Firaun yang kafir dan sombong pun bisa mendatangkan kesejahteraan bagi bangsanya. Hartanya melimpah, mudah baginya menghapus kemiskinan. Tapi Allah cirikan bangsa yang diimpikan itu adalah bangsa yang tidak hanya baik kondisinya, tetapi Allah ridho dengan bangsa tersebut. Di sinilah pentingnya masyarakat dan pemimpin bertaqwa kepada pencipta-Nya. Semua peraturan dan perilaku masyarakat di negeri tersebut dicintai dan diridhoi Allah.

Dari sini kita tahu arti penting doa yang diajarkan nabi Muhammad saw, waj'alna lil muttaqiina imama, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Tidaklah pemimpin orang yang bertaqwa itu kecuali adalah orang yang paling bertaqwa di antara mereka, seperti halnya pemimpin orang-orang kuat adalah orang yang paling kuat di antara mereka. Lantas tidak mungkin suatu negeri mencapai predikat ini kalau pemimpinnya saja tidak bertaqwa bahkan kafir.

Ibnu Katsir seorang ulama tafsir yang sangat terkenal dan diakui mengomentari tentang kalimat Rabbun Ghafur: "yaitu ampunan kepada kalian jika kalian tetap meng-esa-kan Allah."

Kemudian dalam penjelasan lain Allah SWT memberikan ciri seorang pemimpin yang baik adalah kuat dan amanah (dapat dipercaya).

Inilah yang dimiliki nabi Musa AS Tatkala Allah SWT berfirman mengisahkan puteri Nabi Syu'aib yang berkata:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. Al-Qasas: 26)

Kuat secara fisik, kuat secara akal, dan kuat rohaninya lalu dia dapat dipercaya, gelar Nabi Muhammad SAW yang bahkan diberikan oleh musuhnya sendiri, Al-Amin, yang dipercaya.

Fisik prima, penampilannya meyakinkan sebagai seorang pemimpin, memiliki integritas, cakap dan paham mengelola negara, bisa memberikan solusi bukan memperkeruh masalah, kemudian senantiasa bergantung pada Tuhannya.

Seperti itulah arti pemimpin yang layak memimpin orang-orang bertaqwa "Waj'alna lil Muttaqiina Imama" dan kelak negerinya akan menjadi "Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur". Negerinya baik, pemimpinnya santun, dan sejahtera serta bahagia rakyatnya.
__________________
sumber gambar: pinterest.com

Sabtu, 01 April 2017

Cahaya di Malam Syahdu

Temaram di jalan itu, kau lihatkan?
Betapapun sunyi menyelimuti ia tetap bercahaya.
Aku selalu memandangnya malu-malu, tak berani menampakkan diri.
Diam-diam kutahu bagaimana ia melukis angin malam, kutahu bagaimana ia merangkai gelap jadi indah, bahkan kutahu bagimana ia bersenandung me-ninabobo-kan purnama.
Sampai seluruhnya sepi nan syahdu, lalu perlahan ia memulai munajat.
Langit seketika berbaris membukakan pintunya.
Sayap-sayap kesunyian mulai mengepak merdu menanti lirih kata yang siap dihantarkan ke cakrawala tertinggi.
Dedaunan berbisik takut mengganggu kalau akan mengganggu.
Mulailah ia lirih mengucap, memanggil, dan menyeru Tuhannya.
Ia menengadah, mengetuk pintu-pintu langit, membuka jalan-jalan langit, mengguncang bisik-bisik malaikat.
Sampai tetes dari kedua mata mulianya menggetarkan seluruh jagad, membuat penduduk langit hiruk-pikuk.
Sementara Tuhannya sedari awal mendengar, mendekati, dan mengasihi.
Robbigfirli, Tuhannya lantas mengampuni.
Irhamni, Tuhannya lantas mengasihi.
Ihdini, Tuhannya lantas memberinya petunjuk.
Lalu firman-Nya menyeru; "Pintalah, akan aku kabulkan".
Seketika ruang langit dan bumi sesak dengan rahmat-Nya.
Entah berapa mimik takjub terlontar dari rautku.
Ingin esok kembali kusaksikan peristiwa menakjubkan ini, maukah engkau?

Jumat, 24 Maret 2017

Senja yang Resah

Duhai, resahnya sore melepas mentari. Lambat laun cahayanya meredup, pergi ditelan ufuk. Tanpa pamit. Tak ada daya mencegahnya walau sejenak. Tatapku hanya bisa kosong merelakan. Berharap esok jumpa kembali.

Beriringan perginya senja, awal keresahan menghampiri. Hiruk pikuk mulai memenuhi semesta. Padahal setahuku malam membawa sunyi. Tapi di kesendirian justru resah yang kurasa. Ingin rasanya menagih senja, apa yang ia ambil dariku!?

Kunyalakan lentera, coba membakar gundahgulana. Celaka, tak satupun yang menjadi tenang. Ini semakin bergejolak. Malang, resah membuatku lupa akan api. Dasar sifat api!

Kupukul gila ini. Mencoba sadar apa yang hilang. Tidak, akal ini sadar, tapi resah membuatnya buta. Tenyata gelap malam mengambil semua cahayanya. Memupus secercah cahaya yang menghiasi temaram. Kupukul gelap ini, tapi ia menjadi-jadi. Esok kutagih senja!

Semakin menjadi-jadi, bingung pun menghampiriku. Ia tak sendiri. Di penghujung keresahan dan hilangnya asa, ia datang memperkenalkan sesal. Meraih mendekap, mengajariku tunduk, memacu keresahanku, hingga batasnya, lalu di luar sadarku menitikkan air mata. Gejolak resahku seketika padam.

Senin, 30 Januari 2017

Jakarta, 'Desa' yang Tergusur

Pernah liburan ke desa? Pulang kampung? Ah, itu rasanya seperti melepas baju-baju kepenatan. Beban pikiran seperti luntur begitu tiba di desa. Asri, ramah, tentram, menenangkan, kicauan burung, angin segar, hampir semua itu cuma ada di desa.

Dahulu, Jakarta pun seperti itu. Tapi itu sudah dahulu kala. Seperti kisah fiktif kalau diceritakan sekarang. Apalagi hari ini. Entah mengapa penguasa Jakarta saat ini seperti tak mau menghadirkan suasana desa di ibukota. Perlahan digusur dan dipinggirkan. Semua lenyap seperti disapu ombak pinggir pantai. Jakarta makin hilang rasa desanya.

Jakarta ibukota. Betapa indahnya jika ibukota maju, pembangunannya maju, fasilitas dan pelayanannya maju. Bukan tidak mungkin semua itu dicapai dengan juga menghadirkan suasana desa di ibukota. Bayangkan, jika ibukota warganya bahagia, tak ada yang perlu menangis rumahnya digusur. Penataan bolehlah, asal warganya dihormati dan dijunjung. Pemimpin harusnya berjuang untuk rakyat, melayani rakyat bukan menyengsarakan rakyat. Begitu bukan?

Bayangkan jika ibukota hati warganya tentram. Tak perlu lagi ada kata-kata kasar dan menista keluar dari mulut penguasa. Sungguh tak elok rasanya, dipilih rakyat tapi menghina rakyat. Sudah saatnya rakyat ibukota tentram dan bahagia.

Saya berharap, jikalau orang-orang tua sudah tak lagi bisa melihat pemimpin mana yang betul-betul membawa kemajuan dan kebahagiaan, biarlah kami anak muda yang bersuara lantang menyerukan perubahan. Saya punya mimpi, suatu saat ibukota punya rasa desa. Kota megapolitan yang nyaman, tentram, damai, tanpa tangisan pilu warganya.

Saat ini, saya yakin, pasangan nomor 3 calon pemimpin Jakarta, Anis-Sandi punya harapan untuk itu. Semoga warga Jakarta lebih dewasa, lebih cerdas, dan mau bersama mewujudkan kebahagiaan dan ketentraman itu.

Jumat, 27 Januari 2017

Mahasiswa dan Pilkada Jakarta

Sebenarnya apa sih yang dirisaukan warga Jakarta menjelang Pilkada 15 Februari nanti? Apa saja yang ditawarkan masing-masing calon gubernur Jakarta? Manakah calon yang betul-betul mau memperbaiki Jakarta?

Sebagai mahasiswa harusnya lo udah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Ya, jangan kira mahasiswa tak punya peran dalam pagelaran pilkada ini. Ini penting, Karena Jakarta adalah ibukota. Lihat saja semua mata sekarang tertuju pada Pilkada DKI. Siapa sih yang lupa dengan sejarah? Mahasiswa selalu terdepan dalam perubahan di negeri ini. Wajar, karena mahasiswa itu kritis, berani, dan jauh dari iming-iming uang dan kekuasaan. Mereka tulus berjuang. Ya kecuali lo masuk kategori mahasiswa anak layangan, mungkin gak akan banyak tahu dan peduli.

Tapi menurut gue, sudah saatnya mahasiswa khususnya di Jakarta ambil peran. Udah ga zaman lagi mahasiswa skeptis dengan politik, pura-pura gak peduli, giliran rakyat menjerit, rumah-rumah digusur dengan tidak manusiawi, pengusaha ketawa-ketawa nikmatin hasil reklamasi, kita baru kebakaran jenggot. Ingat bro, mahasiswa selalu terdepan mengawasi pemerintahan. Mahasiswa selalu maju memperjuangkan nasib rakyat!

Semoga lo, gue, dan para mahasiswa lainnya udah ga bingung lagi harus ambil peran apa di Pilkada ini. Gue yakin itu.
Dan menurut gue ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa:

Pertama, lo harus buka mata selebar-lebarnya dan tatap Pilkada yang tinggal menghitung hari ini. Cermati, amati, ikuti. Kita bisa lihat kok apa di balik siapa, dan siapa di balik apa. Maksud gue, yang namanya politik adalah kepentingan. Tinggal siapa mementingkan apa. Mementingkan rakyat kah atau bukan? Sadar bahwa di Pilkada ini kita harus ambil peran.

Kedua, tentukan pilihan. Sebagai mahasiswa lo udah harus tahu mana calon pemimpin yang terbaik. Jangan cari malaikat bro di Pilkada ini. Semua calon gue yakin pasti punya kekurangan. Tinggal kita cari siapa yang terbaik di antara yang baik, atau siapa yang paling sedikit buruknya di antara yang buruk. Dan jangan lupa, dia mau memperjuangkan siapa, dan siapa orang-orang di baliknya. Ya namanya juga politik, udah ga bisalah mahasiswa dibodohi dengan pencitraan. Dan gue pribadi melihat di Pilkada ini ada tiga poros besar, yang satu mewakili Amerika, yang satu mewakili China, dan satu lagi mewakili Indonesia. Ya itu sih opini gue.

Ketiga, setelah lo yakin, jangan puas sampai di situ aja. Lo harus ajak teman-teman lo, buat mereka juga yakin kaya lo. Gimana caranya? Sekarang zaman canggih, lo cuma duduk aja udah bisa bro. Manfaatin teknologi, gadget, media sosial, blog, komunitas, dan lain-lain. Dan perlu kita sadari, sebagian pemilih DKI adalah pemilih muda, yang mayoritasnya adalah mahasiswa, yang lo tahu mahasiswa ga lepas dari internet dan media sosial. Manfaatkan itu.
"Loh ngapain gue repot-repot ngajak orang?" Yaelah bro, kalo cuma lo seorang doang milih calon yang lo yakin dia yang terbaik, percuma aja, yang akan menang adalah yang paling banyak suaranya. Ingat kan pemilu Amerika beberapa waktu lalu? Rakyatnya pada pengen Hillary yang menang, tapi nyatanya apa? Trump yang naik. Karena apa? Karena dia yang dapat suara terbanyak, akhirnya sekarang demo di mana-mana. Ya namanya juga demokrasi, begitulah kenyataannya.

Terkahir, 15 Februari buat lo yang ber-KTP Jakarta, jangan sampai kehilangan hak suara lo. Dateng ke TPS. Jangan golput. Sekarang lo bisa lihat orang-orang yang matanya cuma bisa lihat duit berbondong-bondong pada milih. Yang dicari duitnya doang, gak peduli siapa yang dipilih, yang penting kantong tebel. Lo gamau kan mereka-mereka pada milih sementara lo yang tulus mencari pemimpin sejati ga milih?

So, pilkada bukan cuma urusan orang-orang tua, bukan cuma kepentingan elit politik, tapi lo sebagai mahasiswa punya peran besar di pemilu. Untuk rakyat Indonesia, untuk Jakarta yang lebih baik, hidup mahasiswa!

Selasa, 24 Januari 2017

Jeritan Mahasiswa Jakarta, kemana?

Pernah melihat jalan Jakarta sepi? Ya, mungkin hanya dua kali dalam setahun saat lebaran haji dan lebaran puasa, ditambah libur-libur longweekend yang sering tak pasti, sama dengan keluhan rakyat Jakarta yang sering tak pasti nasibnya.

Tapi saya lebih sering melihat Jakarta sepi dari teriakan mahasiswa. Padahal pemangku kebijakan tak pernah sepi dari korupsi. Tukang oplet yang sudah memarkirkan opletnya sejak lama pun paham dengan keluhan-keluhan ini.

Syukurlah, kita bisa melihat jelas permasalahan Jakarta yang tak bisa disembunyikan oleh si pesilat lidah. Meskipun sebenarnya miris. Memangnya ada yang ingin hidup dalam sengsara terus? Saya tak sanggup lagi menonton jerit tangis rakyat jelata yang rumahnya digusur dengan tidak manusiawi. Saya juga semakin pilu dengan keuntungan reklamasi yang ternyata lebih banyak merugikannya. Geram dengan pertunjukan nista-menistakan di publik. Penegak hukumnya seperti main kucing-kucingan, tak tahu kapan tertangkapnya. Bosan, cari mangsa lain. Sudah saatnya Jakarta butuh kesantunan dari pemimpinnya. Ini negeri yang santun, ini ibukotanya yang santun.

Aneh bukan? Panggung ibukota negara yang kaya raya, rakyatnya santun, dan ragam budayanya ini cuma jadi rebutan orang bermata duit. Jelas menggiurkan, ini ibu kota loh. Sebab itulah yang merasa hebat berani ikut ambil peruntungan demi bisa menunggangi panggung nyaman ini. Siapa yang betul-betul tulus? Tinggal lihat saja siapa dalang di balik tokohnya.

Mahasiswa, Jakarta, mahasiswa Jakarta, tolaklah lupa itu, lupa dengan karakter kita yang khas, kritis. Jangan mau dikelabui rezim yang terus coba membuat kritis kita tumpul. Menjeritlah sebagaimana rakyat menjerit. Teriaklah sebagaimana warga kecil berteriak. Nasib ibukota ini sebentar lagi ditentukan.

Minggu, 01 Januari 2017

Sepuluh Tahun yang Lalu, dari Timur ke Barat

Raji Pantai Losari
2006 yang lalu, tak terasa kini sudah sepuluh tahun berlalu. Masa-masa saat pertama kali memulai perjalanan, perjalanan penuh emosi dan memori. Terkadang tangis mengalir, tak jarang pula senyum terukir, silih berganti menghiasi perjalanan ini, perjalanan panjang nan berliku.

Masa yang begitu sulit dilupakan, walau waktu menghempasnya begitu cepat. Berlalu berlarian seperti diterpa ombak.

Dari Timur ke Barat, membentang, membelah lautan, meneruskan budaya mendarah daging leluhur kampung halaman.

Hidup dalam perantauan tak ubahnya menempa diri, mengasah kearifan, dan membentangkan persahabatan.

Bertemu, lalu berpisah, dan harap kelak bertemu kembali. Irama hidup yang seperti ini menempa jiwa, mengasah hati, dan merajut pikiran, maju berkembang menembus batas.

Dari Timur ke Barat, melintas pulau. Berbekal pesan nasihat dari kampung halaman, kemudian menemukan hamparan pengalaman yang tak ternilai harganya.

Dari Timur ke Barat, mencari kekayaan ilmu, menelusuri celah-celah dasar ilmu pengetahuan, hingga sadar bahwa tak ada yang diri ini ketahui, semakin saja merasa kosong.

Dari Timur ke Barat, melintas awan cakrawala. Ada sejuta memori indah yang tak mungkin terlupakan. Di sana, di sini, ada teman yang merangkul, selalu ada mengobati rindu, namun satu waktu justru menambah rindu.

Ini bukan lelah, bukan pula jenuh, ia mata air yang memberikan kehidupan. Ia hamparan yang membentuk ekosistem. Ia embun yang menyegarkan. Ia nutrisi yang menumbuhkan. Ia elok menghiasi pemandangan di tempat persinggahan ini.

Dari Timur ke Barat, sepuluh tahun berlalu. Masih ingatkah? Rasa-rasanya baru kemarin sore kita berpisah, rasa-rasanya belum lama kita melambai tangan, rasa-rasanya baru saja aku melangkahkan kaki, namun waktu menepuk menyadarkan, bahwa cukup panjang jalan yang telah ditempuh.

Sepuluh tahun telah berlalu, kaki ini harus semakin kuat, pundak ini harus semakin kokoh, genggaman ini harus semakin erat, pandangan harus semakin tajam, dan langkah harus semakin hentak.

Selalu ingat, sejauh manapun engkau berkelana, ada Sang Pencipta yang akan menyertai, membimbing, dan menghilangkan kesendirian. Sepanjang apapun jalan yang kau telusuri, ada risau dan doa orang tua menyertai, memberi kekuatan, menyempurnakan bekal.

"Berkelanalah, kelak akan kau jumpai pengganti dari yang engkau tinggalkan" betapa indah Imam Syafi'i melukiskan hakikat perjalanan.

Kelak, pulanglah dengan harapan yang telah menjadi nyata, cita-cita yang telah terwujud, dan tujuan yang telah dicapai.

Sepuluh tahun, semoga senantiasa dalam keberkahan.
_______
19 September 2016
Di atas cakrawalah menuju Barat.

Selasa, 07 Juni 2016

Apa Tema Ramadan Kita?


Bulan mulia harus dipersiapkan dengan baik kedatangannya. Layaknya tamu agung yang datang setelah pergi sebelas bulan lamanya. Mari persiapkan dan sambut meriah kedatangannya. Marhaban ya Ramadan.

Menarik ingin saya sampaikan salah satu persiapan menyambut tamu agung ini. Tema. Apa tema ramadan kita kali ini? Boleh jadi sama atau boleh jadi berbeda dengan Ramadan tahun lalu, yang jelas kita harus pasang target Ramadan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Namun jangan puas dulu, tidakkah kita sedih dengan mereka yang tak merasakan kehadiran Ramadan kecuali secara tiba-tiba? Lantas tema apa yang dia persiapkan? Bisa jadi Ramadan baginya hanya bertema puasa, tidak makan dan tidak minum di siang hari.

Sungguh malang bukan? Padahal Ramadan selalu datang dengan janji ketakwaan bagi siapa saja yang lulus darinya. Berlimpah-ruah keutamaan dan segala rahmat ampunan Allah di bulan ini. Lalu tidakkah kita haus untuk meneguk segala luapan nikmat itu? Atau boleh kita berkata, minimal satu dua teguk dari telaga keutamaan Ramadan kita ambil. Jangan sampai sia-sia, tertinggal, dan tak dapat apa-apa kecuali seperti yang disabdakan Baginda Nabi saw: Betapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan sedikitpun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.

Olehnya, mari kita susun tema Ramadan kita. Ukir dan pajang besar-besar di hadapan ruh dan pikiran kita setidaknya selama satu bulan Ramadan. Moga-moga ia jadi motivasi dan pengingat kita agar tak tertinggal jatah keutamaan Ramadan.
Seperti apa tema Ramadan itu? Tak asing pastinya, kita sering mendengar Ramadan tak disebut Ramadan. Di antaranya Syahrus Shiyam (bulan puasa), Syahrul Quran (bulan Al-Quran), Syahrus Shobr (bulan kesabaran), Syahrul Maghfirah (bulan ampunan), Syahrul Qiyam (bulan qiyamullail/tahajjud), Syahrut Taubah (bulan taubat), Syahrus Shodaqah (bulan bersedekah), dan masih banyak lagi.

Ternyata Ramadan sejatinya begitu penuh dengan ketaatan, begitu padat dengan ibadah. Maka cobalah untuk menjadikan salah satu di antaranya unggulan selama bulan Ramadan. Contoh kita bisa jadikan taubat sebagai ibadah unggulan kita selama Ramadan. Tiada hari tanpa istighfar, dalam sehari kita targetkan minimal seribu kali istighfar. Taubat kita lebih dahsyat dari hari-hari di luar Ramadan, semakin hari semakin sering kita mengadu memelas ampunan kepada Allah. Hingga hari-hari Ramadan kita penuh dengan kalimat istighfar dan taubat. Subhanallah, indah betul. Maka Bulan Taubat dan Istighfar adalah tema Ramadan kita.

Atau Allah beri kita kelebihan harta. Targetkan tiada hari tanpa sedekah, nominalnya melebihi sedekah kita di hari-hari biasa. Semakin kita lalui hari di bulan Ramadan, semakin asyik kita bersedekah. Maka Bulan Bersedekah adalah tema Ramadan kita.

Tak boleh semalampun lewat tanpa shalat tahajjud minimal empat rakaat. Di sepuluh malam terakhir tak ada lagi waktu malam untuk tidur kecuali sedikit. Maka Bulan Tahajjud adalah tema Ramadan kita.
Sungguh indah kita lalui hari-hari Ramadan dengan tema Ramadan. Jadikan ia amal unggulan kita di Ramadan tahun ini, sesuai kapasitas dan kemampuan kita, "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.." (At-Taghabun: 16)

Tapi ingat, ada orang yang selepas Ramadan, ia menjadi betul-betul kaya bergelimang pahala dan fadhilah. Siapa mereka? Orang-orang yang menjadikan segala jenis ibadah menjadi unggulannya di bulan Ramadan. Allah swt ridha terhadap mereka dan tanpa ragu memberian gelar takwa sesuai janjiNya. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Mari tentukan tema Ramadan kita dan raih gelar takwa insya Allah.

Selasa, 08 Maret 2016

Shalat Gerhana dan Hikmah

shalat gerhana

Saat gerhana, gaya gravitasi bumi sedikit terpengaruh oleh gravitasi bulan dan matahari yg sejajar.

Dri situs www.infoastronomy.org dikatakan:
"Nilai gravitasi di permukaan Bumi adalah 9,8 meter per detik kuadrat, atau 980 gal. Sementara penelitian oleh dua astronom Tiongkok, Xin-She Yang dan Qian-Shen Wang menunjukkan adanya penurunan gravitasi Bumi 6 hingga 7 mikrogal atau 0,000006 hingga 0,0000007 gal saat kontak pertama dan kontak terakhir gerhana Matahari. Namun, selama fase total, gravitasi Bumi kembali normal."

Lalu, dalam ajaran Islam, kita disunnahkan utk shalat gerhana saat terjadi gerhana, dan salah satu yg membedakannya dgn shalat yg lain adalah lamanya waktu pelaksanaan shalat tersebut, ruku' dan sujudnya pun lama.

Dari sini saya meyakini, walaupun tidak ada pembuktian ilmiahnya (atau lebih tepatnya saya yg blm menemukan), ada hikmah dan pengaruh terhadap kesehatan/medis dari shalat gerhana yg lama dengan kondisi tubuh yg dipengaruhi fenomena gerhana. 
-Seperti halnya rahasia dibalik pelarangan laki2 memakai perhiasan emas dan larangan perempuan shalat saat haid dari sudut pandang medis-
Wallahu 'alam.

Jadi, sunnah muakkadah shalat gerhana jangan sampai terlewatkan. Semoga Allah memeberi kita semua taufiq agar mampu mengikuti sunnah baginda Nabi saw, karena seperti itulah seyogyanya kita dalam beribadah, tak perlu menunggu apa rahasia dan hikmah di balik perintah ibadah. Adapun saat kita mengetahui hikmah dan rahasia di balik ibadah tersebut, tentu akan menambah semangat dan keyakinan kita dalam beibadah.

-Raji Luqya Maulah-
sumber foto: www.dakwatuna.com